The newfound appetite for Domestic Travel in Indonesia

Lake Toba, one of Indonesia’s many undiscovered travel gems. Photo: talkmen

My Dear Readers, it is with great delight that I share with you all, my son’s travel piece which was picked up by Jakarta-based Talkmen, an online men’s lifestyle magazine and translated it into Bahasa Indonesia. The story first appeared in Anthropelago Blog which we collaboratively created to document our travels through Indonesia and any other stories related to Indonesia.

Indonesia dan Pertumbuhan Wisata Domestik

Banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia sangat membantu pertumbuhan wisata dalam negeri.
By: Max Hasan

Saya baru saja kembali dari perjalanan selama dua minggu di Sumatera bersama ayah saya. Kami menyusuri pulau kedua terbesar di Indonesia dari utara ke selatan, berawal di Batam, Kepulauan Riau, lalu ke propinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat, hingga berakhir di kota minyak, Palembang, Sumatra Selatan.

Kegiatan wisata ini kami fokuskan terhadap kekayaan alam, budaya, tradisi, dan sejarah Indonesia. Kami pun larut dalam berbagai pengalaman unik untuk lebih memahami budaya setiap daerah dengan lebih mendalam.

Perjalanan pertama dan mungkin yang paling berkesan, adalah trekking dan berkemah di pedalaman hutan Sumatera Utara, di Taman Nasional Gunung Leuser, habitat alam terakhir Orang Utan.

The majestic Orang Utan in Bukit Lawang, Gunung Leuser National Park, North Sumatra. Photo: corbisimages.com

Pintu masuk ke hutan ini dikawal oleh Bukit Lawang, sebuah desa kecil yang terdiri dari sejumlah homestay atau losmen, restoran, vila, dan toko perlengkapan untuk wisata berpetualang. Ketika kami menyusuri desa yang terletak di dataran tinggi ini, kami cukup kaget karena menjumpai losmen-losmen penuh dengan wisatawan backpacker dari Eropa dan Amerika Utara. Ada seorang pensiunan dari Denmark yang memilih menghabiskan separuh tahun di sini, di tengah udara yang lebih bersahabat dibandingkan di negerinya yang dingin. Ia memiliki sebuah rumah bak cottage kecil di tepi sungai. Tidak ada satupun wisatawan Indonesia yang dijumpai diantara para new agers asing ini.

Dalam petualangan trekking dan berkemah ini, kami bergabung dengan tiga anak muda dari Montreal, Kanada yang baru saja lulus Sarjana. Mereka sedang backpacking berkeliling Asia Tenggara selama enam bulan. Selanjutnya, dalam perjalanan menembus hutan, kami berjumpa dengan beberapa grup wisatawan petualang asing lainnya.

“Anda, dari mana?” kami bertanya kepada sekelompok wajah-wajah yang merona merah dan berkeringat

“Manchester, Inggris”

“Italia!”

“Perth!”

hingga akhirnya, “Louisiana, Sir!” seorang oma menjawab keras dengan aksen “Southern” khas Amerika Serikat, beliau berusia setidaknya 70-tahun.

Petualangan berikutnya pun menanti, ketika duo ayah dan anak ini tiba di Pulau Samosir di tengah Danau Toba yang terbentuk dari sebuah letusan gunung api purbakala. Penginapan kami dioperasikan oleh Annette, seorang wanita Jerman separuh baya yang jatuh cinta terhadap tanah dan lelaki Batak dimana Annette telah tinggal di Samosir sejak 19 tahun yang lalu.

Sekalipun kami tiba cukup larut, area lobi hotel masih dipenuhi beberapa tamu Eropa yang sedang menikmati roti dan kue buatan Annette yang terkenal itu. Kami mengenali beberapa bahasa, di antaranya: Jerman, Perancis, Italia, Schwyzerdütsch (dialek Jerman Swiss), dan dialek Inggris Australia. Malam itu, kami juga beruntung diundang untuk minum whisky oleh seorang Opa Belanda yang telah meninggalkan pekerjaan “kerah putih”nya dan, mengikuti langkah Annette, menjalankan bisnis hotel “Horas Family Hodeme”, sebuah penginapan kelas atas. Dan sekalipun kami hanya menginap satu malam di Tabo Cottage yang asri, kami sudah dapat merasakan terjun ke dalam sebuah mikrokosme bangsa-bangsa Barat.

Tren wisatawan Eropa, Amerika Utara, dan Australia terus kami jumpai hingga akhir perjalanan di pulau yang besar ini. Indonesia tampaknya menarik wisatawan Barat lebih banyak ke daerah tertentu dibandingkan wisatawan nusantara (domestik). Hal ini membuat kami penasaran, sehingga kami pun mulai berhipotesa tentang penyebabnya.

A smattering of Indonesian travelers enjoying the lakefront Tabo Cottage overlooking Lake Toba in Tuktuk, Samosir Island. Photo: Dian Hasan

Wisatawan Indonesia
Dari sejumlah kecil wisatawan Indonesia yang menunjukkan minat terhadap jenis wisata petualangan seperti ini, saya menemukan beberapa faktor sosial umum yang menghubungkan mereka, seperti:

Mereka semua lulusan luar negeri, kebanyakan mengambil studi di Australia, Amerika Utara, atau Inggris.

Melengkapi pendidikan internasional mereka, jejaring sosial menandai kepiawaian mereka berinteraksi, khususnya Instagram, yang menjadi pilihan tepat untuk berbagi foto perjalanan dengan teman, keluarga, followers, dan para fans.
Umumnya mereka berusia muda, 20-an hingga pertengahan 30, lajang, dan belum berkeluarga. Kelompok demografis ini menyerupai wisatawan Barat yang kami jumpai, baik tua maupun muda, tanpa keluarga (tanpa anak-anak).

Banyak dari mereka memiliki hobi fotografi. Dalam perjalanan mereka melakukan kegiatan “photo hunting” di mana fokus utama perjalanan adalah lensa mereka, dengan harapan dapat mengambil foto yang cukup keren untuk dipajang.

On the ferry back to Parapat, Lake Toba. Photo: Dian Hasan

Seiring dengan terkuaknya profil wisatawan ini, saya langsung menghubungkannya dengan data statistik sosial-ekonomi Indonesia yang belum lama saya telaah.

Indonesia memiliki populasi dengan dasar piramida yang sangat lebar. Hal ini berarti proporsi penduduk usia muda terhadap orang tua sangat tinggi, dan terus tumbuh. Proporsi ini diestimasi akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2020 – 2025.

Adanya peningkatan pencapaian pendidikan tinggi, khususnya lulusan dari universitas luar negeri.
Indonesia juga adalah salah satu negara dengan pengguna jejaring sosial tertinggi di dunia: pengguna Facebook ke-4 terbesar di dunia, setelah AS, Brazil, dan India; peringkat tertinggi pengguna Twitter di Asia; pengguna aktif Foursquare, situs dan aplikasi berbasis-lokasi
Sejalan dengan kebijakan ekonomi liberal dan debt-to-GDP (porsi hutang terhadap PDB) yang rendah, negara kepulauan terbesar di dunia ini melahirkan banyak golongan kelas menengah baru. Kelompok masyarakat kelas-menengah baru (khususnya kelas ekonomi menengah-atas) inilah yang memicu pertumbuhan yang pesat dalam lingkup jejaring sosial, konsumsi dan pendidikan.

Bila digabungkan, maka terlihat kondisi yang sangat kondusif terhadap pasar baru pariwisata domestik. Dugaan saya, dalam dekade mendatang, pertumbuhan permintaan pariwisata Indonesia akan diiringi oleh wisatawan domestik yang senang berbelanja dan gemar ber-jejaring sosial.

Saat ini pun sejumlah produk dan layanan mulai bermunculan sebagai dampak dari permintaan wisata domestik. Seiring dengan menjamurnya berbagai Low Budget Airlines baru yang menawarkan penerbangan murah ke lebih banyak destinasi, wisatawan kini memiliki beragam pilihan akses ke daerah-daerah yang dulunya membutuhkan perjalanan yang menggabungkan kereta, mobil, maupun perahu untuk mencapainya.

Secara perlahan tapi pasti, benih yang ditanamkan sudah mulai membuahkan hasil. Tidak lama lagi pasar wisata domestik pasti akan berkembang menjadi sektor inovatif yang berpotensi di lihat oleh dunia.

Inspiration: Talkmen eZine

Advertisements

About dianhasan

Brand Storyteller, Travel Writer, Speaker, Creative Writer & Thinker - avid observer of randomness in everyday life - Sustainable Business, Eco Matters, Sustainable Urban Issues, Architecture, Heritage Conservation, Innovation & Brand-Strategy, Cross-Cultural Communications, Travel, Tourism & Lifestyle.
This entry was posted in Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s